Rabu, 03 Desember 2008

Mereka Juga Manusia

Pernah denger ga'? Seorang kyai ato ulama yang kharismatik disanjung oleh pengikutnya hingga setinggi langit? (Emangnya langit bisa dijangkau dengan ukuran?)Tapi, memang benar sich, banyak orang yang menganggap 'lebih' seorang tokoh, baik itu yang dianggap ulama(orang shalih), tokoh nasional, ato yang lain hingga kelewat batas.
Dalam istilah syar'inya nich, mengagungkan orang yang shalih, ato yang lainnya secara berlebihan disebut dengan al ghuluw. Ghuluw ini memiliki hukum yang tak bisa diremehkan. Karena jelas-jelas itu suatu keha-raman yang bisa menyebab-kan kekufuran, kesyirikan ato pun mengeluarkan empunya dari agama agama ini. Ih….ngeri kalo begitu!
Bahkan, ghuluw ini merupakan deretan dosa besar yang bisa merusak tauhid uluhiyyah dan menghilangkan syahadat 'laa ilaaha illallah.'
Coba kita simak firman Allah berikut,
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampai-kan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Ilah itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu." (An Nisa: 171)
Dalam ayat ini jelas, Allahlmelarang berbuat kelewat batas dalam mengangkat makhluk melebihi porsinya, sehingga posisinya sebagai makhluk menempati posisi khaliq, Illah, dan Dzat yang disembah. Padahal ini suatu yang tidak patut kecuali hanya bagi Allah Rabb semesta alam.
Apa Saja Sich?Berbuat ghuluw/melewati batas terhadap orang shalih yang bisa mengeluarkan pelakunya keluar dari koridor islam banyak ragamnya, diantaranya;
1. Mengangkat Nabi sebagai anak AllahFenomena ini kita temui pada kaum Nashara terhadap Nabi Isa p dan kaum Yahudi terhadap Nabi Uzair p. Mereka begitu berlebihan dalam memuji Nabi Isa dan Uzair, bahkan sampe pada tingkat ketuhanan. Buktinya mereka berdoa dan selalu memohon kepada nabi mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
"Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelum-nya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan." (Al-Maidah: 75)
2. Patung dan gambar pun dibuatSetelah sekian lama orang-orang shalih tersebut diangungkan dalam kubur, akhirnya ada yang memiliki ide perlunya membuat patung orang-orang shalih guna mengenang jasa dan amal mereka.Waktu pun terus berjalan hingga generasi berikutnnya tak hanya menge-nangnya tapi menyembah patung-patung tersebut karena hilangnya ilmu yang ada pada mereka. Dan terjadilah, akhirnya mereka menjadikan patung-patung tersebut sebagai sesembahan dalam ibadah. Sebagaimana juga ini pernah terjadi pada kaum Nabi Nuh yang memuja berhala-berhala orang-orang shalih.
3. Berdoa di samping kuburan? Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memohon kepada Allahlagar kuburan beliau jangan sampe dijadikan arena sesem-bahan dan tempat berdo'a.
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah." (Riwayat Malik dan Ahmad). Terus, bagaimana mungkin kuburan orang yang kedudukannya di bawah Rasulullah n dibuat sebagai sesembahan dan ajang berdoa? Tentu lebih tidak masuk akal!
4. Meminta Syafa'at, Wasilah, Istighotsah, Isti'anah Yang berhak mengatur dan memberikan rizki, kesehatan, nasib, jodoh, keselamatan hidup dan mati dan lainnya, tentulah hanya Allahl. Lalu bagaimana mungkin meminta semuanya kepada selain-Nya? Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda,
"Sesungguh-nya istighatsah itu tidak (boleh dimintakan) kepadaku, tetapi istighatsah itu kepada Allah." (Riwayat Ath-Thabrani)
5. Mengetahui Urusan GhaibBohong jika orang-orang shalih mengetahui rahasia hidup seperti jodoh, cinta, rezeki, dan nasib para makhluk. Ilmu ghaib hanya haknya Allahl, dan sedikit sekali yang diberikan kepada manusia, itupun hanya diberikan kepada Rasul-Nya saja, sebagai bukti kenabian/mukjizat. Allah subhanahu wa ta'ala mengatakan,
"(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya." (Al Jin: 26-27) Nabi shallallahu alaihi wa sallam saja tidak bisa mengetahui rahasia kehidupan ini, bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah beliau bisa menyatakan mengetahui hal yang ghaib dan meramal nasib orang lain? Tak bisa dipercaya?
Begitulah, fenomena yang kerap kita lihat. Orang shalih yang begitu luar biasa disanjung hingga pada derajat ketuhanan. Sadar ga sadar itu adalah perbuatan keji dan dhalim, siapa pun pelakunya.Rasululullah n saja tidak suka dipuji berlebihan (padahal beliau sangat pantas memperolehnya), tapi kenyataannya tidak demikian. Rasulullah n tetaplah manusia yang tak punya hak untuk dipertuhankan. Baik dalam keyakinan maupun dalam ibadah. Beliau juga manusia, apalagi mereka yang disanjung secara berlebihan oleh sebagian orang. (ANay)
sumber : Majalah el fata

Tidak ada komentar: