Rabu, 16 Maret 2011

Mawarku di Hari Esok


Perkenankan kami mengirim senyuman cita-cita yang kami mekarkan dari kejauhan kota kami. Senyuman cita-cita ini benar-benar bersemi seiring meredanya hujan sore tadi saat dedaunan muda mulai hijau melebat di dahan-dahan pohon flamboyan.

Menulis catatan akhir pekan bagian kedua ini, selanjutnya, perkenankanlah pula kami mengutip sebuah permintaan agung yang terlontar dari lisan seorang wanita. Ia begitu mengharapkan dentuman risalah langit yang akan menyuburkan kabahagiaan di taman hatinya. Tak hanya itu, dari permintaannya tersebut, ada beberapa mutiara yang bisa menjadi penabur hikmah bagi mereka (para wanita) di zaman ini.Rekaman permintaan ini kami temukan dalam kitab Li An-Nisa’i Ahkamun wa Adabunkarya syaikh Muhammad bin Syakir Asy-Syarif. Kitab ini menghidangkan 43 hadits tentang wanita beserta uraiannya.
Abu Hurairah bercerita bahwa kaum wanita mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka berkata, ”wahai Rasulullah, kami tak bisa mengikuti majelismu karena banyak kaum lelaki. Berikanlah satu hari bagi kami untuk bermajelis dengan engkau.” Mendengar permintaan tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam setuju dan kemudian bertutur, “tempat kalian di kediaman fulan.” Mereka pun datang pada hari dan tempat yang dijanjikan.[1]

>>Sehari Saja Untuk Kami

“..Berikanlah satu hari bagi kami untuk bermajelis dengan engkau.”

Lihatlah, begitu mulianya apa yang mereka pinta. Mereka tak pintakan emas, permata atau berlian. Mereka pintakan kemuliaan melalui ilmu yang mereka buru: “Berikanlah satu hari bagi kami untuk bermajelis dengan engkau.”

Begitu irinya mereka kepada kaum laki yang selalu bermajelis dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Mereka meneguk sari pati ilmu langsung dari lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, mereka mempelajari hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Inilah ibadah yang agung. Iman mereka bertambah nan membuahkan ketakwaan. Mereka bergelut dengan hal-hal yang menambah kapasitas keilmuan. Mereka usahakan menjemput ilmu dan mendekati sosok-sosok yang membawa ilmu. Sungguh bertabur sejuta kebaikan dari apa yang mereka raih.

Inilah salah satu kebahagiaan itu yaitu mengenal dan memahami agama islam yang mulia. Mereka mengetahui bahwa kebahagiaan berbanding lurus dengan kejernihan ilmu dan bersihnya pendidikan syar’i.
Sungguh potret yang begitu bertolak belakang dengan wanita di zaman ini.
Wahai pena kami, lihatlah para wanita kita, mereka mengandrungi novel-novel picisan yang katanya islami. Mereka menikmati roman-roman fiktif yang menyeret mereka terjebak dalam dunia khayal. Mereka terbius dengan film-film drama cinta korea.

Memang benar, akan ternikmati mimpi-mimpi indah dan ilusi yang memabukkan ketika mereka melakoni apa yang kami sebutkan tetapi itu semua akan berakhir dengan terkikisnya kepribadian dan jati diri sebagai muslimah. Akan ada duka yang siap menginangi hati lalu membinasakan mereka.
Kami dapati diantara mereka benar-benar terbius dengan artis-artis pria korea yang katanya amat menawan itu. Foto-fotonya menjadi koleksi. Ada pula yang terharu bahagia ketika sang artis itu tampil di layar kaca. Parahnya, mereka teriak histeris memandang sang artis saat konser. Lisan-lisan mereka begitu sering terbumbui kisah-kisah atau adegan film sang idola.

Di lain waktu, untuk konsumsi bacaan, mereka penuhi dengan majalah yang jauh dari nilai-nilai nabawi. Gosip-gosip murahan bertumpuk dalam majalah itu. Mode-mode pakaian terkini pun menjadi bahan utama yang dibicarakan. Kisah-kisah fiktif nan murahan menyelusup dalam memori. Mereka lupa, atau tak tahu, majalah-majalah seperti itu secara perlahan membius alur berpikir. Ujung-ujungnya semua itu mengikis jati diri mereka sebagai muslimah yang layak menjadi wanita paling bahagia.

Inikah sumber bahagia itu?

Inikah sumber ilmu yang merupakan mata air keimanan itu?

>>Semburat Malu Tersipu

”wahai Rasulullah, kami tak bisa mengikuti majelismu karena banyak kaum lelaki.”

Agungnya ucapan itu. Sebuah ucapan agar mereka tak terlihat oleh laki-laki non mahram. Inilah sebuah ucapan yang terbalut pesona rasa malu yang begitu mengagumkan. Inilah sebuah ucapan yang menyembur dari hati yang terhiasi akhlak mulia sebagai wanita muslimah.

Wahai pena kami, marilah kita lihat bagaimana rasa malu wanita di zaman ini benar terkikis menipis.
Di facebook, mereka menampilkan aurat yang sungguh tak layak untuk dilihat. Mereka memajang foto-foto yang mengundang fitnah bagi kaum adam. Rambut yang menjadi mahkota pun dipamerkan. Lengan terbuka. Lehernya tak terbalut kain penutup. Muka atau wajah yang merupakan kumpulan titik pesona menjadi kebanggaan di hadapan non mahram.

Para wanita yang hanya sekedar saja menutup aurat pun tak kalah memamerkan apa yang ada pada diri mereka. Lekuk tubuh yang harus tertutup sempurna malah diekspos. Senyuman khas sang penggoda terpajang walaupun tak berniat menggoda.

Sungguh indah dan mulianya apa yang dikatakan Asma’ binti Abu bakar radhiyallahu anhuma. Beliau (Asma’) berkata:

“Kami menutupi wajah-wajah kami dari pandangan kaum laki-laki dan kami menyisir rambut kami terlebih dahulu ketika hendak melakukan ihram.”[2]

Begitu pula apa yang dikatakan Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Adalah para pengendara melewati kami sedangkan kami tengah berihram bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila para pengendara tersebut melewati kami, maka masing-masing dari kami menutupkan jilbabnya dari kepalanya agar menutupi wajahnya. Dan ketika mereka berlalu maka kami pun membukanya kembali.”[3]

Subhanallah.

Segala puji bagi Allah, sungguh segala puji bagi-Nya. Merekalah teladan dalam memahkotakan rasa malu di singgasana hati. Itulah rasa malu yang terpercik dari jernihnya telaga keimanan.

Kembali ke dunia maya, pada saat yang sama, obrolan-obrolan yang terbumbui dengan canda diantara lawan jenis menjadi suatu hal yang lumrah lalu berujung pada pembicaraan yang menyeret keduanya dalam maksiat hati.

Facebook yang seharusnya dimanfaatkan untuk menanmbah kapasitas keilmuan dengan membaca artikel-artikel, malah menjadi latar bagi drama cinta dunia maya. Mereka tak malu melabelkan diri dengan “in a relationship with” atau “engaged with”. Apa yang mereka inginkan?

Status facebook yang seyogyanya ditulis dengan hal-hal yang bisa menjadi pelajaran, malah jauh dari kesahajaan.

“aku mencintaimu sepenuh hatiku”
“kangeeeeeeeen”
“kau adalah belahan hatiku”
“aduh, kakiku caaaakiiiiit”
“ge dengerin musik nih”
“artis korea yang tadi kereeeeen banget”

Sungguh rasa malu yang menjadi penghias akhlak tak lagi menjadi balutan hati. Dimanakah rasa malu itu kini berada?

***
Ah, banyak sekali yang ingin kami paparkan. Tetapi baiklah kami titipkan salam untuk para wanita agar mereka mempercantik diri dengan kemuliaan islam dan merias diri dengan ilmu sehingga berbahagialah mereka arungi hari-hari di akhir zaman ini. Sudah selayaknya mereka menambah kapasitas keilmuan yang mendekatkan mereka kepada Rabb Yang Maha Agung yaitu dengan mempelajari tauhid dan aqidah yang shahih, mempelajari hukum dan adab-adab yang berhubungan dengan kewanitaan, bahkan mempelajari keterampilan-keterampilan yang bersifat keduniaan.

Pula, kami berharap mereka benar-benar membalut diri dengan rasa malu yang mulai terkikis fitnah-fitnah zaman. Sungguh rasa malu merupakan salah satu kemuliaan. Kelak ataupun saat ini, kami yakin, predikat “wanita paling bahagia di dunia” akan benar-benar mereka raih. Inilah senyuman cita-cita yang kami maksudkan itu.

Wallahu a’lam.

Subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ila hailla anta asytaghfiruka wa atuubu ilaika.

Mataram, Kota Ibadah,16 Zulqa'dah 1431 H
Referensi:
1. Kitab Li An-Nisa’i Ahkamun wa Adabunkarya syaikh Muhammad bin Syakir Asy-Syarif
2. Kitab Hiraasatu Al-Fadhilah karya syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid
3. beserta buku tambahan lainnya
_______
Endnotes:
[1] HR Ahmad (7310), syaikh Al-Arnauth berkata, “sanadnya shahih sesuai syarat muslim”,; Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya (VII/203); Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (I/64), juga diriwayatkan dalam kitab Shahihnya bab Kitab Ilmu (102).
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, ia berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim. Hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi.”
[3] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Daaruquthni dan Al-Bahaqi

sumber : artikel Ummu Maryam

Manisnya Sifat Sabar


Oleh : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, ST

Inilah beberapa faedah yang kami peroleh dari penjelasan Sabar yang disampaikan oleh para ulama. Semoga bermanfaat.

Sabar secara bahasa berarti al habsu yaitu menahan diri.
Sedangkan secara syar’i, sabar adalah menahan diri dalam tiga perkara :
(1) ketaatan kepada Allah, (2) hal-hal yang diharamkan, (3) takdir Allah yang dirasa pahit (musibah).
Inilah tiga bentuk sabar yang biasa yang dipaparkan oleh para ulama.Sabar dalam ketaatan kepada Allah
Yaitu seseorang bersabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Dan perlu diketahui bahwa ketaatan itu adalah berat dan menyulitkan bagi jiwa seseorang. Terkadang pula melakukan ketaatan itu berat bagi badan, merasa malas dan lelah (capek). Juga dalam melakukan ketaatan akan terasa berat bagi harta seperti dalam masalah zakat dan haji.
Intinya, namanya ketaatan itu terdapat rasa berat dalam jiwa dan badan sehingga butuh adanya kesabaran dan dipaksakan.

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron [3] : 200).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Sholihin ketika menjelaskan ayat ini, beliau rahimahullah mengatakan,
”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin sesuai dengan konsekuensi dan besarnya keimanannya dengan 4 hal yaitu : shobiru, shoobiru, robithu, dan bertakwalah pada Allah.
Shobiru (kesabaran) adalah menahan diri dari maksiat, sedangkan shoobiruu adalah menahan diri dalam melakukan ketaatan. Robithu adalah banyak melakukan kebaikan dan mengikutkannya lagi dengan kebaikan, sedangkan takwa mencakup semua hal tadi.” Dan beliau mengatakan pula bahwa dalam melakukan ketaatan itu butuh kesabaran yang terus menerus dijaga karena : (1) Ketaatan itu akan membebani seseorang dan mewajibkan sesuatu pada jiwanya, (2) Ketaatan itu terasa berat bagi jiwa, karena ketaatan itu hampir sama dengan meninggalkan maksiat yaitu terasa berat bagi jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan. –Demikianlah perkataan beliau-

Sabar terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah
Ingatlah bahwa jiwa seseorang biasa memerintahkan dan mengajak kepada kejelekan, maka hendaklah seseorang menahan diri dari perbuatan-perbuatan haram seperti berdusta, menipu dalam muamalah, makan harta dengan cara bathil dengan riba dan semacamnya, berzina, minum minuman keras, mencuri dan berbagai macam bentuk maksiat lainnya. Seseorang harus menahan diri dari hal-hal semacam ini sampai dia tidak lagi mengerjakannya dan ini tentu saja membutuhkan pemaksaan diri dan menahan diri dari hawa nafsu.

Sabar terhadap takdir Allah yang dirasa pahit
Ingatlah bahwa takdir Allah itu ada 2 macam, ada yang menyenangkan dan ada yang terasa pahit. Untuk takdir Allah yang menyenangkan, maka seseorang hendaknya bersyukur. Dan syukur termasuk dalam melakukan ketaatan sehingga butuh juga pada kesabaran dan hal ini termasuk dalam sabar bentuk pertama di atas.
Sedangkan takdir Allah yang dirasa pahit misalnya seseorang mendapat musibah pada badannya atau kehilangan harta atau kehilangan salah seorang kerabat, maka ini semua butuh pada kesabaran dan pemaksaan diri. Dalam menghadapi hal semacam ini, hendaklah seseorang sabar dengan menahan dirinya jangan sampai menampakkan kegelisahan pada lisannya, hatinya, atau anggota badan.

Keadaan Manusia dalam Menghadapi Musibah
Perlu diperhatikan bahwa seseorang dalam menghadapi musibah ada empat keadaan.
Keadaan pertama adalah murka (marah) yaitu seseorang menampakkan rasa marah baik pada lisan, hati atau anggota badannya.
Seseorang yang murka pada Allah dalam hatinya yaitu dia merasa benci (murka) pada Allah dan dia merasa bahwa Allah telah menzholiminya dengan ditimpakan suatu musibah. –Kita berlindung pada Allah dari perbuatan semacam ini-
Adapun seseorang merasa murka lisannya seperti dia mencaci maki waktu (masa) sehingga menyakiti Allah.

Dalam shohih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ’larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Sedangkan murka dengan anggota badannya adalah seperti seseorang menampar-nampar pipinya, memukul-mukul kepalanya sampai merobek-robek bajunya atau semacam itu.

Dan inilah yang dilakukan oleh orang-orang Syi’ah ketika bulan Muharram tepatnya pada hari Asyuro dalam rangka meratapi kematian Husein. Mereka tidak bersabar, malah memukul-mukul bahkan mengeluarkan darah dari badan-badan mereka. Ini bukanlah sabar, namun perbuatan semacam ini berarti murka terhadap musibah.Maka orang-orang yang murka semacam ini tidak akan mendapatkan ganjaran dari musibah yang menimpanya, tidak terselamatkan dari musibah bahkan akan mendapatkan dosa. Orang semacam ini menjadi tertimpa dua musibah (kerugian) di dunia yaitu dengan kemurkaannya dan musibah yang menyakiti dia sendiri.

Keadaan kedua adalah sabar dengan menahan diri terhadap musibah yang dihadapi. Keadaan kedua ini adalah dia merasa benci dengan musibah dan tidak pula menyukai kejadian seperti itu terjadi tetapi dia menahan diri dengan tidak menggerutu dengan lisannya sehingga membuat Allah murka padanya, dia juga tidak marah sehingga memukul-mukul angota badannya, dia juga tidak menggerutu dalam hatinya. Orang seperti ini tetap bersabar akan tetapi benci terhadap musibah tersebut.

Keadaan ketiga adalah ridho. Yaitu seseorang merasa lapang hatinya dengan musibah yang menimpa, dia betul-betul ridho dan seakan-akan dia tidak mendapatkan musibah. Hukum sabar adalah wajib dan ridho adalah mustahab (dianjurkan).

Keadaan keempat adalah bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpa. Keadaan seperi inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat (mendapatkan) sesuatu yang dia sukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
‘[Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihat] Segala puji hanya milik Allahyang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.’ Dan ketika beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
‘[Alhamdulillah 'ala kulli hal] Segala puji hanya milik Allah atas setiap keadaan’.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Keadaan terakhir inilah tingkatan tertinggi dalam mengahadapi musibah yaitu seseorang malah mensyukuri musibah yang menimpa dirinya. Keadaan seperti inilah yang didapati pada hamba Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya, dia melihat bahwa di balik musibah dunia yang menimpanya ada lagi musibah yang lebih besar yaitu musibah agama. Dan ingatlah musibah agama tentu saja lebih berat daripada musibah dunia karena azab (siksaan) di dunia tentu saja masih lebih ringan dibandingkan siksaan di akhirat nanti. Karena musibah dapat menghapuskan dosa, maka orang semacam ini bersyukur kepada Allah karena dia telah mendapatkan tambahan kebaikan.

Dari Abu Huroiroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah rasa capek, rasa sakit (yang terus menerus), kekhawatian, rasa sedih, bahaya, kesusahan menimpa seorang muslim sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibah tersebut.” (HR. Bukhari no. 5641)

Bersabar bukanlah di akhir, namun bersabar adalah di awal musibah

Perlu diketahui, bahwa sabar yang menjadikan seseorang mendapatkan ganjaran pahala adalah sabar ketika di awal musibah dan inilah sabar yang benar. Adapun sabar sesudahnya adalah cuma sekedar hiburan. Perhatikanlah hadits berikut.

Dari Anas bin Malik beliau berkata,
مَرَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِامْرَأَةٍ تَبْكِى عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى » . قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِى ، وَلَمْ تَعْرِفْهُ . فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَتَتْ بَابَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ . فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى »
”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah.” Kemudian wanita itu berkata,”Menjauhlah dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibahku dan belum mengetahuinya.” Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu bahwa orang tersebut adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia tidak mendapati seorang yang menghalangi dia masuk pada rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian wanita ini berkata,”Aku belum mengenalmu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283)

Musibah merupakan tanda kecintaan Allah pada seseorang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya balasan terbesar adalah dari ujian terberat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka, maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi, beliau katakana hadits ini hasan ghorib)

Kami tutup tulisan ini dengan membawakan perkataan seorang penyair Arab,

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya
Namun akhirnya lebih manis daripada madu

Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan sifat sabar dalam melakukan ketaatan, dalam menjauhi maksiat dan dalam menghadapi musibah.

Jumat, 11 Maret 2011

Engkau Sang Bidadari Terpilih


Wanita terlahir sebagai anugerah terindah dari Rabb Sang Pencipta untuk seluruh semesta. Betapa kelamnya dunia ini tanpa kehadiran seorang wanita sebagai perhiasan di tengah hiruk pikuknya kaum Adam. Pun, dia adalah sosok hamba yang penuh dengan keindahan dan menyejukkan mata yang melihatnya. Tiada tergantikan perannya, hingga tak jarang para bidadari surga iri padanya. Ketulusan dan pengorbannannya begitu dahsyat, hingga mereka pun dikabarkan memiliki 3 tingkat derajat lebih baik dibanding para panglima keluarga.

Sebaik-baik Perhiasan
Ternyata, dunia yang penuh dengan gemerlap ini hanyalah perhiasan semu yang melalaikan. Keindahannya masih belum bisa menggantikan perhiasan terbaik yang telah diciptakan Allah a dengan rasa cinta. Ya, seindah dan semewah apa pun dunia ternyata tak mampu mengalahkan kemulian seorang wanita. Tapi, bukan semabarang wanita tentunya. Hanyalah wanita salihah yang mendapat predikat kebaikan lebih baik dari dunia dan seisinya. Rasulullah n, bersabda
“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Dan wanita shalihah adalah sumber kebahagian para penduduk bumi. Keberadaannya begitu mempesona hingga para wanita buruk (tidak shalihah) tak akan pernah mampu mengalahkannya walau dengan emas setinggi gunung dan kemewahan seluas laut. Dan itulah yang ditekankan oleh Rasulullah n dalam sebuah hadist,
“Di antara kebahagian anak adam itu ada tiga, demikian juga dengan kesengsaraannya, juga ada tiga. Di antara kebahagian anak Adam itu adalah: wanita shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan ketiga kesengsaraannya adalah wanita yang buruk (tidak shalihah), tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Kini, Kemulian Itu Ternoda
Begitu agung dan mulianya seorang wanita di sisi Rabb Sang Pencipta, membuat para musuh Allah menjadi resah. Karenanya, mereka tiupakan aroma-aroma kebinasaan atas nama kebebasan dan kesetaraan. Mereka jadikan larangan Allah a dan rasul-Nya sebagai racun beraroma cokelat yang tampak begitu lezat. Dan aturan Ilahi yang begitu mulia, tampak seperti barang lusuh yang tiada arti. Lihat saja racun itu kini telah menghinggapi banyak wanita muslim di sekitar kita. Banyak wanita muslim yang terjebak untuk berpenampilan seronok dan berlenggak-lenggok di jalanan atas nama mode dan kecantikan. Padahal, Allah telah memberikan ancaman yang begitu dahsyat berkaitan dengan hal ini melalui lisan rasul-Nya yang mulia
“Dua golongan dari penghuni neraka yang tidak pernah kulihat yang seperti mereka berdua, yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi, yang dengan cemeti itu mereka memukuli manusia, dan wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok dan bergoyang-goyang, kepala mereka seperti punuh onta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak masuk surgadan tidak mencium baunya. Sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak perjalanan sekian lama dan sekian lama.” (Diriwayatkan Muslim dan lain-lain)
Yang lebih mengerikan, banyak wanita yang tergiur dan terjerembab oleh gemerlapnya dunia. Mereka tinggalkan singgasana kemulian dan berlari menuju kursi panas kehancuran. Atas nama uang dan popularitas, merelakan keindahan tubuh dan kehormatan diri sebagai wanita terjaga. Mereka lupa bahwa harta dan dunia adalah perhiasan dunia yang melalaikan saja. Inilah musibah yang sebenarnya sudah diperingatkan oleh Rasulullah n,
“Celakalah hamba dinar dan dirham, hamba sutera dan beludru. Apabila diberi dia akan merasa senang dan apabila tidak diberi maka di akan marah.”

Kembali Kepada Kemulian
Tidak ada cara lain untuk mengembalikan dunia pada tatanan yang lebih baik kecuali mengembalikan para wanita pada kedudukan awalnya, kemulian. Dan untuk memuliakan wanita, Islam telah menjadi satu-satunya solusi terbaik dengan syariatnya. Satu diantaranya dengan syariat hijab. Allah a berfirman yang artinya,
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Surat An Nuurr : 31)
Sudah saatnya para muslimah meraih kemulian sebagai hamba yang dikarunia banyak keindahan. Tentu caranya bukan dengan menjadikan mereka sebagai barang dagangan pemuas syahwat. Tapi, mereka harusnya menjadi perhiasan terbaik yang akan menggetarkan dunia dengan kelembutan dan ketulusan. Dan jika itu benar terwujud, sungguh mereka lebih mulia daripada para bidadri karena sholat, ibadah, dan ketakwaan mereka. (Adin)


Sumber : http://majalah-elfata.com/index.php?option=com_content&view=article&id=73:engkau-sang-bidadari-terpilih&catid=1:edisi-oktober-2010&Itemid=109

Rabu, 11 Maret 2009

Selasa, 10 Maret 2009

Hari ini engkau tertawa, besok bisa jadi engkau menangis


Oleh . Ust. Abuzzubair, Lc

Jalan dunia ini tidak selamanya datar dan mulus. Banyak hal-hal yang tidak pernah kita duga ada dihadapan kita. Suka duka, sedih dan gembira adalah warna-warni kehidupan. Dunia tidak pernah menjanjikan kenikmatannya yang abadi kepada siapapun. Sekalipun zohir sebagian orang-orang kaya tampak bahagia, tentram dan damai dengan kelapangan hidup, harta dan pembantu-pembantu yang dimilikinya, hanya saja hakekat kehidupannya yang tidak diketahui orang lain berbeda sama sekali dengan penampilan zohirnya.

Berapa banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang membuat ngiler orang-orang yang mendengarnya, hanya saja hari-hari tidak selalu dalam satu kondisi. Terkadang kenikmatannya diambil tiba-tiba ketika ia sedang berada dipuncak kenikmatan hidup, atau datanglah tragedI-tragedi zaman yang merampas darinya ..bukan ..bukan merampas apa yang dimilikinya, tidak. Akan tetapi merampas kelezatan menikmati apa yang dimilikinya, dan ini lebih dahsyat serta menyakitkan dari yang sebelumnya. Tidak merasakan nikmat hidup dari apa yang dimilikinya.

Tidak usah engkau tanyakan contohnya saudaraku …

Tanyakan saja kepada hari-hari yang telah berlalu dan masa-masa yang menjadi saksi-saksi bisu tentang orang-orang yang berjatuhan dalam hidup ini.

Tidak sedikit orang yang dikira hidup jaya di dunia ini, sehingga kerentaan, penyakit, dan kelemahan mendatanginya, merampas kelezatan hidupnya lalu meninggalkan kedua matanya nanar melihat kenikmatan tapi ia tidak dapat mengambil manfaat darinya sedikitpun. Bak fatamorgana yang terlihat seperti telaga oleh orang-orang yang dahaga, tatkala didekati ia tidak dapatkan apa-apa selain rasa haus yang kian mencekik dan menyesakkan.

Ada dua orang yang selalu membuat saya heran. Seorang yang dianugerahi kedudukan duniawi, lalu ia lalim, angkuh dan sombong dan menyakiti orang-orang yang dibawah pimpinannya. Ia tidak takut kepada Allah dalam memimpin mereka. Padahal ia yakin bahwa kedudukannya ini pasti lenyap dalam waktu yang telah ditentukan Allah. Dalam sekejap kedudukan dan kemegahan duniawi itu diambil Allah, lalu si sombong itu menjadi orang yang lebih rendah dari orang biasanya.

Yang kedua, seorang yang dianugerahi Allah kekuasaan atau kedudukan, atau harta yang berlimpah tidak ada orang yang menandinginya. Lalu ia menghabiskan umurnya dalam menjaga dan menambah harta tersebut. Tidak berbuat sesuatu yang akan menjadi kebaikan yang kekal diingat manusia dan bermanfaat untuknya setelah mati. Atau menjadi penghiburnya di hari tua. Hari ketika ia melihat setiap orang memakan makanan yang lezat dan nikmat kecuali dia hanya memakan sepotong roti kering yang bisa jadi orang miskinpun tak mau memakannya.

Jadi seperti yang dikatakan orang-orang arif dan bijak; jalan hidup lurus tanpa berliku itu mustahil. Hari-hari selalu berobah dari waktu-kewaktu. Bisa saja seorang itu bangkrut lalu jatuh miskin atau ditimpa penyakit, sehingga tersibukkan dari harta benda yang telah dikumpulkannya, atau datang orang lain yang merampas dengan paksa kekuasaan yang dimilikinya.

Kesusahan dan himpitan hidup juga bertingkat-tingkat, di antaranya ada yang lebih berat dan menyakitkan dari yang lainnya. Seperti dendam kesumat orang-orang yang menanti-nanti keruntuhan dan kejatuhan. Mereka menanti saat-saat itu, apalagi jika orang yang jatuh itu orang yang pernah berlaku zalim dan semena-mena tidak punya kebaikan yang bisa meringankannya.

Betapapun pahitnya sebuah keruntuhan akan tetapi sebagiannya lebih ringan dari yang lainnya. Dalam sejarah kita bisa melihat kejatuhan kekuasaan “Baramikah” dan bagaimana Harun Ar-Rosyid membalas dendam dengan membunuh Ja’far bin Yahya Al-Barmaky dan menyalibnya serta memenjarakan ayah dan saudaranya. Lalu mengambil harta-harta mereka, hanya saja dulu mereka pernah berbuat baik sehingga orang banyak masih mengenang kebaikannya itu sekalipun kekuasaan dan harta mereka telah dirampas. Oleh karenanya tidak sedikit orang-orang yang menangisi kondisinya ditiang salib. Sampai-sampai Harun Ar-Rosyid marah kepada seorang penyair yang memuji-muji Ja’far Al-Barmaky.

Benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala,

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Artinya, “Itulah hari-hari yang kami putarkan silih berganti diantara manusia”. (Ali Imron : 140)

Kekuasaan akan sirna, masa muda beralih kepada tua, sehat kepada sakit. Akan tetapi pertanyaannya, “Apakah akan dikatakan sesuatu yang baik saat perpisahan dan sesudahnya? Ataukah cukup dikatakan, pergilah dan tak usah kembali lagi?!”.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لرجل وهو يعظه اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك رواه الحاكم وقال صحيح على شرطهما

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma ia menuturkan, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda menasehati seseorang, “Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu kosongmu sebelum kesibukkanmu dan hidupmu sebelum matimu”.[1]

Jangan lupa .. hidupmu bukan hanya hari ini, masih ada esok hari atau setelah mati, wallahu a’lam.

(Abuz Zubeir Hawaary)[2]













[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan ia berkata, “Shohih atas syarat keduanya (Bukhari dan Muslim)”. Juga dishohihkan oleh Syeikh Al-Albanyi di Shohih At-Targhib wat Tarhiib no.3355.

[2] Untuk seorang sahabat yang sedang terhimpit beban hidup nun jauh disebarang sana, semoga Allah memudahkan urusanmu. Bersabarlah .. kesulitan di dunia tidak seberapa dibandingkan kesulitan di akhirat kelak .. wallahul musta’an.


Sumber : Abuzzubair.net

Senin, 09 Maret 2009

Berdakwah Boleh Asal.....

Dakwah, sebenarnya adalah profesi mulia. Profesi ini merupakan jalan agung yang menjadi aktifitas para nabi dan rasul dalam hidup mereka.
Profesi yang juga menjadi tanggung jawab para ulama ini tak mudah dijalankan. Ada syarat, ketentuan, dan kriteria yang mesti dipenuhi para pengemban risalah kenabian ini.
Jadi bukan sembarang orang boleh dan bisa berdakwah, terlebih da'i 'dadakan' yang hanya bermodal ketenaran dan keberanian belaka. Nah, apa sajakah yang mesti dipenuhi para dai dalam menjalankan aktifitas dakwahnya? 1. Ilmu
Mengingat sangat agungnya tanggung jawab seorang da'i, yakni mendakwahkan risalah ilahi maka tanggung jawab ini pun mesti dilandasi dengan adanya ilmu. Bagaimana seorang dapat menyampaikan ajaran syar'i jikalau ia tidak memiliki ilmunya. Seorang yang tak berilmu tak akan mampu menyampaikan apa-apa. Karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

Katakanlah, inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah.


Maksud dari bashirah ini adalah apa yang diucapkan Allah dan Rasul-nya alias al ilmu.

2. Ikhlas

Ikhlas memang dituntut dalam segala urusan, terlebih yang menyangkut masalah ibadah. Karena dakwah juga masuk dalam cakupan ibadah, ikhlas menjadi kemestian bagi para juru dakwah.
So, berdakwah yang benar adalah yang diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala semata. Bukan karena harta dan materi, popularitas dan lainnya. Ketika seorang da’I dalam berdakwah meniatkan untuk popularitas dan materi, maka sejatinya itulah yang bakal dicapainya. Bukankan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

Barang siapa yang berhijrahnya karena dunia atau wanita untuk dinikahi maka hijrahnya hanya untuk yang dicitakannya.



3. Menjadi Teladan Baik
Mengingat seorang da'i merupakan figur yang menjadi acuan, mau tak mau ia mesti dapat memberikan teladan yang baik. Dalam artian da'i ini menyerukan kebaikan dan menjadi orang pertama yang melaksanakannya. Melarang keharaman serta meninggalkannya. Da'i semacam inilah yang termasuk dalam jajaran orang-orang beruntung. Bagaimana mungkin seorang yang dikatakan da'i namun keseharian tak mencerminkan sisi 'keda'iannya'?Apakah ia akan berhasil mengajak umat untuk bergama yang benar? Nampaknya begitu jauh arang dari panggangnya. Bahagialah para dai yang menyambut dan merespon firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Dan siapakah yang lebih baik ucapannya ketimbang orang yang menyeru kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan, 'Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang berserah diri.



4. Bertakwa
Jelas sekali. Modal ini tak boleh dilupakan oleh para da'i. Bertakwa di sini sangatlah komplek. Takwa dalam ucapan, perbuatan, dan hati. Takwa yang tumbuh hanya karena ilmu yang dimiliki bukan karena sanjungan dan pujian. Takwa yang melahirkan rasa takut kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya hanya berdasar cahaya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa pula yang menjadi benteng ketika menghadapi ujian dalam berdakwah. Karena dakwah tak bakal sepi dari gangguan dan aral, ketika dalam kondisi ini takwa sangat dihajatkan seorang da'i.

5. Bersikukuh dengan Al Quran dan Sunnah
Tak bisa dipungkiri,bahwasanya sumber ilmu yang hakiki ada pada keduanya. Karenanya dakwah ini juga tak bisa mengabaikan bahkan meninggalkan segenap kandungannya.
Seorang penyeru di jalan Allah subhanahu wa ta’ala mestinya mempelajari Al Quran dan As Sunnah untuk mengetahui segala hal yang diperintahkan Allah dan hal-hal yang menjadi larangan-Nya. Dengan Keduanya pula para da'i mampu mengetahui metode mengingkari kemungkaran dalam berdakwah.

6. Lemah Lembut
Termasuk sifat yang menjadi bekal seorang da'i adalah sikap lemah lembut dalam dakwahnya. Sebagaimana yang telah dipraktikkan manusia-manusia terbaik, yakni para nabi dan rasul. Lemah lembut merupakan hal yang sangat dituntut dalam berdakwah, seperti yang dilansir dalam sebuah ayat,

Dan dengan rahmat dari Allah hendaklah kamu berlemah lembut kepada mereka. (Ali Imran: 159)


Karenanya, menjadi kemestian dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut. Rasulullah juga menyatakan,

Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu pun melainkan akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk. (Riwayat Musim)



7. Mengikuti Kebenaran/Al haq
Tentunya, ini adalah kemestian. Karena orang yang berdakwah tak lain adalah menyampaikan kebenaran itu sendiri. Bagaimana ia akan menyampaikan kebenaran kalau ia sendiri tidak mengikuti kebenaran itu sendiri?
Namun, patokan kebenaran di sini adalah Al Qur'an dan As Sunnah. Meski kebenaran ini bersebrangan dengan pendapat orang yang 'dikatakan' ahli ilmu tetap harus diikuti kalau memang telah jelas penjelasannya.

8. Mulai dari yang Terpenting
Dakwah ada skala prioritasnya. Dan mula pertama yang mesti disampaikan adalah masalah tauhid bukan lainnya. Bukannya masalah lain dikesampingkan, namun yang menjadi prioritas utama tetaplah tauhid. Bagaimana seorang hamba bisa beribadah yang benar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, apa saja yang mesti dihindari dalam beribadah kepada-Nya, apa saja yang menyebabkan seorang keluar dari Islam dan lain sebagainya. Setelahnya bisa mulai didakwahkan permasalah lain yang berkaitan dengan agama ini.

9. Bersabar
Adalah hal yang mesti terpatri dalam diri da'i, memiliki kesabaran dalam dakwah. Karena dakwah tak semulus perkiraan. Ada ujian, rintangan, dan hambatan yang mesti dilalui. Karenanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan,

Maka bersabarlah sebagaimana ulul azmi dari para rasul dan janganlah tergesa-gesa. (Al Ahqaf: 35)



Demikian, yang seharusnya ada pada diri seorang da'i. Siapa pun boleh berdakwah asalkan memiliki minimal bekal-bekal tersebut. Sudahkah ada pada diri kita? Semoga.

(Abu Nayla, Adaptasi dari Min Aqwali samahati As Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Bazz fii Ad Dakwah)



Sumber :" Majalah Elfata