Rabu, 11 Maret 2009

Selasa, 10 Maret 2009

Hari ini engkau tertawa, besok bisa jadi engkau menangis


Oleh . Ust. Abuzzubair, Lc

Jalan dunia ini tidak selamanya datar dan mulus. Banyak hal-hal yang tidak pernah kita duga ada dihadapan kita. Suka duka, sedih dan gembira adalah warna-warni kehidupan. Dunia tidak pernah menjanjikan kenikmatannya yang abadi kepada siapapun. Sekalipun zohir sebagian orang-orang kaya tampak bahagia, tentram dan damai dengan kelapangan hidup, harta dan pembantu-pembantu yang dimilikinya, hanya saja hakekat kehidupannya yang tidak diketahui orang lain berbeda sama sekali dengan penampilan zohirnya.

Berapa banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang membuat ngiler orang-orang yang mendengarnya, hanya saja hari-hari tidak selalu dalam satu kondisi. Terkadang kenikmatannya diambil tiba-tiba ketika ia sedang berada dipuncak kenikmatan hidup, atau datanglah tragedI-tragedi zaman yang merampas darinya ..bukan ..bukan merampas apa yang dimilikinya, tidak. Akan tetapi merampas kelezatan menikmati apa yang dimilikinya, dan ini lebih dahsyat serta menyakitkan dari yang sebelumnya. Tidak merasakan nikmat hidup dari apa yang dimilikinya.

Tidak usah engkau tanyakan contohnya saudaraku …

Tanyakan saja kepada hari-hari yang telah berlalu dan masa-masa yang menjadi saksi-saksi bisu tentang orang-orang yang berjatuhan dalam hidup ini.

Tidak sedikit orang yang dikira hidup jaya di dunia ini, sehingga kerentaan, penyakit, dan kelemahan mendatanginya, merampas kelezatan hidupnya lalu meninggalkan kedua matanya nanar melihat kenikmatan tapi ia tidak dapat mengambil manfaat darinya sedikitpun. Bak fatamorgana yang terlihat seperti telaga oleh orang-orang yang dahaga, tatkala didekati ia tidak dapatkan apa-apa selain rasa haus yang kian mencekik dan menyesakkan.

Ada dua orang yang selalu membuat saya heran. Seorang yang dianugerahi kedudukan duniawi, lalu ia lalim, angkuh dan sombong dan menyakiti orang-orang yang dibawah pimpinannya. Ia tidak takut kepada Allah dalam memimpin mereka. Padahal ia yakin bahwa kedudukannya ini pasti lenyap dalam waktu yang telah ditentukan Allah. Dalam sekejap kedudukan dan kemegahan duniawi itu diambil Allah, lalu si sombong itu menjadi orang yang lebih rendah dari orang biasanya.

Yang kedua, seorang yang dianugerahi Allah kekuasaan atau kedudukan, atau harta yang berlimpah tidak ada orang yang menandinginya. Lalu ia menghabiskan umurnya dalam menjaga dan menambah harta tersebut. Tidak berbuat sesuatu yang akan menjadi kebaikan yang kekal diingat manusia dan bermanfaat untuknya setelah mati. Atau menjadi penghiburnya di hari tua. Hari ketika ia melihat setiap orang memakan makanan yang lezat dan nikmat kecuali dia hanya memakan sepotong roti kering yang bisa jadi orang miskinpun tak mau memakannya.

Jadi seperti yang dikatakan orang-orang arif dan bijak; jalan hidup lurus tanpa berliku itu mustahil. Hari-hari selalu berobah dari waktu-kewaktu. Bisa saja seorang itu bangkrut lalu jatuh miskin atau ditimpa penyakit, sehingga tersibukkan dari harta benda yang telah dikumpulkannya, atau datang orang lain yang merampas dengan paksa kekuasaan yang dimilikinya.

Kesusahan dan himpitan hidup juga bertingkat-tingkat, di antaranya ada yang lebih berat dan menyakitkan dari yang lainnya. Seperti dendam kesumat orang-orang yang menanti-nanti keruntuhan dan kejatuhan. Mereka menanti saat-saat itu, apalagi jika orang yang jatuh itu orang yang pernah berlaku zalim dan semena-mena tidak punya kebaikan yang bisa meringankannya.

Betapapun pahitnya sebuah keruntuhan akan tetapi sebagiannya lebih ringan dari yang lainnya. Dalam sejarah kita bisa melihat kejatuhan kekuasaan “Baramikah” dan bagaimana Harun Ar-Rosyid membalas dendam dengan membunuh Ja’far bin Yahya Al-Barmaky dan menyalibnya serta memenjarakan ayah dan saudaranya. Lalu mengambil harta-harta mereka, hanya saja dulu mereka pernah berbuat baik sehingga orang banyak masih mengenang kebaikannya itu sekalipun kekuasaan dan harta mereka telah dirampas. Oleh karenanya tidak sedikit orang-orang yang menangisi kondisinya ditiang salib. Sampai-sampai Harun Ar-Rosyid marah kepada seorang penyair yang memuji-muji Ja’far Al-Barmaky.

Benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala,

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Artinya, “Itulah hari-hari yang kami putarkan silih berganti diantara manusia”. (Ali Imron : 140)

Kekuasaan akan sirna, masa muda beralih kepada tua, sehat kepada sakit. Akan tetapi pertanyaannya, “Apakah akan dikatakan sesuatu yang baik saat perpisahan dan sesudahnya? Ataukah cukup dikatakan, pergilah dan tak usah kembali lagi?!”.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لرجل وهو يعظه اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفراغك قبل شغلك وحياتك قبل موتك رواه الحاكم وقال صحيح على شرطهما

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma ia menuturkan, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda menasehati seseorang, “Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu kosongmu sebelum kesibukkanmu dan hidupmu sebelum matimu”.[1]

Jangan lupa .. hidupmu bukan hanya hari ini, masih ada esok hari atau setelah mati, wallahu a’lam.

(Abuz Zubeir Hawaary)[2]













[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan ia berkata, “Shohih atas syarat keduanya (Bukhari dan Muslim)”. Juga dishohihkan oleh Syeikh Al-Albanyi di Shohih At-Targhib wat Tarhiib no.3355.

[2] Untuk seorang sahabat yang sedang terhimpit beban hidup nun jauh disebarang sana, semoga Allah memudahkan urusanmu. Bersabarlah .. kesulitan di dunia tidak seberapa dibandingkan kesulitan di akhirat kelak .. wallahul musta’an.


Sumber : Abuzzubair.net

Senin, 09 Maret 2009

Berdakwah Boleh Asal.....

Dakwah, sebenarnya adalah profesi mulia. Profesi ini merupakan jalan agung yang menjadi aktifitas para nabi dan rasul dalam hidup mereka.
Profesi yang juga menjadi tanggung jawab para ulama ini tak mudah dijalankan. Ada syarat, ketentuan, dan kriteria yang mesti dipenuhi para pengemban risalah kenabian ini.
Jadi bukan sembarang orang boleh dan bisa berdakwah, terlebih da'i 'dadakan' yang hanya bermodal ketenaran dan keberanian belaka. Nah, apa sajakah yang mesti dipenuhi para dai dalam menjalankan aktifitas dakwahnya? 1. Ilmu
Mengingat sangat agungnya tanggung jawab seorang da'i, yakni mendakwahkan risalah ilahi maka tanggung jawab ini pun mesti dilandasi dengan adanya ilmu. Bagaimana seorang dapat menyampaikan ajaran syar'i jikalau ia tidak memiliki ilmunya. Seorang yang tak berilmu tak akan mampu menyampaikan apa-apa. Karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

Katakanlah, inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah.


Maksud dari bashirah ini adalah apa yang diucapkan Allah dan Rasul-nya alias al ilmu.

2. Ikhlas

Ikhlas memang dituntut dalam segala urusan, terlebih yang menyangkut masalah ibadah. Karena dakwah juga masuk dalam cakupan ibadah, ikhlas menjadi kemestian bagi para juru dakwah.
So, berdakwah yang benar adalah yang diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala semata. Bukan karena harta dan materi, popularitas dan lainnya. Ketika seorang da’I dalam berdakwah meniatkan untuk popularitas dan materi, maka sejatinya itulah yang bakal dicapainya. Bukankan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

Barang siapa yang berhijrahnya karena dunia atau wanita untuk dinikahi maka hijrahnya hanya untuk yang dicitakannya.



3. Menjadi Teladan Baik
Mengingat seorang da'i merupakan figur yang menjadi acuan, mau tak mau ia mesti dapat memberikan teladan yang baik. Dalam artian da'i ini menyerukan kebaikan dan menjadi orang pertama yang melaksanakannya. Melarang keharaman serta meninggalkannya. Da'i semacam inilah yang termasuk dalam jajaran orang-orang beruntung. Bagaimana mungkin seorang yang dikatakan da'i namun keseharian tak mencerminkan sisi 'keda'iannya'?Apakah ia akan berhasil mengajak umat untuk bergama yang benar? Nampaknya begitu jauh arang dari panggangnya. Bahagialah para dai yang menyambut dan merespon firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Dan siapakah yang lebih baik ucapannya ketimbang orang yang menyeru kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan, 'Sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang berserah diri.



4. Bertakwa
Jelas sekali. Modal ini tak boleh dilupakan oleh para da'i. Bertakwa di sini sangatlah komplek. Takwa dalam ucapan, perbuatan, dan hati. Takwa yang tumbuh hanya karena ilmu yang dimiliki bukan karena sanjungan dan pujian. Takwa yang melahirkan rasa takut kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya hanya berdasar cahaya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa pula yang menjadi benteng ketika menghadapi ujian dalam berdakwah. Karena dakwah tak bakal sepi dari gangguan dan aral, ketika dalam kondisi ini takwa sangat dihajatkan seorang da'i.

5. Bersikukuh dengan Al Quran dan Sunnah
Tak bisa dipungkiri,bahwasanya sumber ilmu yang hakiki ada pada keduanya. Karenanya dakwah ini juga tak bisa mengabaikan bahkan meninggalkan segenap kandungannya.
Seorang penyeru di jalan Allah subhanahu wa ta’ala mestinya mempelajari Al Quran dan As Sunnah untuk mengetahui segala hal yang diperintahkan Allah dan hal-hal yang menjadi larangan-Nya. Dengan Keduanya pula para da'i mampu mengetahui metode mengingkari kemungkaran dalam berdakwah.

6. Lemah Lembut
Termasuk sifat yang menjadi bekal seorang da'i adalah sikap lemah lembut dalam dakwahnya. Sebagaimana yang telah dipraktikkan manusia-manusia terbaik, yakni para nabi dan rasul. Lemah lembut merupakan hal yang sangat dituntut dalam berdakwah, seperti yang dilansir dalam sebuah ayat,

Dan dengan rahmat dari Allah hendaklah kamu berlemah lembut kepada mereka. (Ali Imran: 159)


Karenanya, menjadi kemestian dalam berdakwah adalah dengan lemah lembut. Rasulullah juga menyatakan,

Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu pun melainkan akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk. (Riwayat Musim)



7. Mengikuti Kebenaran/Al haq
Tentunya, ini adalah kemestian. Karena orang yang berdakwah tak lain adalah menyampaikan kebenaran itu sendiri. Bagaimana ia akan menyampaikan kebenaran kalau ia sendiri tidak mengikuti kebenaran itu sendiri?
Namun, patokan kebenaran di sini adalah Al Qur'an dan As Sunnah. Meski kebenaran ini bersebrangan dengan pendapat orang yang 'dikatakan' ahli ilmu tetap harus diikuti kalau memang telah jelas penjelasannya.

8. Mulai dari yang Terpenting
Dakwah ada skala prioritasnya. Dan mula pertama yang mesti disampaikan adalah masalah tauhid bukan lainnya. Bukannya masalah lain dikesampingkan, namun yang menjadi prioritas utama tetaplah tauhid. Bagaimana seorang hamba bisa beribadah yang benar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, apa saja yang mesti dihindari dalam beribadah kepada-Nya, apa saja yang menyebabkan seorang keluar dari Islam dan lain sebagainya. Setelahnya bisa mulai didakwahkan permasalah lain yang berkaitan dengan agama ini.

9. Bersabar
Adalah hal yang mesti terpatri dalam diri da'i, memiliki kesabaran dalam dakwah. Karena dakwah tak semulus perkiraan. Ada ujian, rintangan, dan hambatan yang mesti dilalui. Karenanya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan,

Maka bersabarlah sebagaimana ulul azmi dari para rasul dan janganlah tergesa-gesa. (Al Ahqaf: 35)



Demikian, yang seharusnya ada pada diri seorang da'i. Siapa pun boleh berdakwah asalkan memiliki minimal bekal-bekal tersebut. Sudahkah ada pada diri kita? Semoga.

(Abu Nayla, Adaptasi dari Min Aqwali samahati As Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Bazz fii Ad Dakwah)



Sumber :" Majalah Elfata